Kecaman Keras Bella Hadid terhadap Dolce & Gabbana: Isu Diskriminasi Rasial di Panggung Milan Fashion Week 2026
Kecaman Keras Bella Hadid terhadap Dolce & Gabbana: Isu Diskriminasi Rasial di Panggung Milan Fashion Week 2026 – Industri mode global kembali diguncang oleh gelombang kontroversi yang melibatkan salah satu rumah mode paling ikonik asal Italia, Dolce & Gabbana. Pada gelaran
Milan Fashion Week 2026, sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi perayaan kreativitas dan inklusivitas justru berubah menjadi ajang kritik tajam. Supermodel internasional,
Bella Hadid, secara terbuka menyuarakan kekecewaannya terhadap brand tersebut, menuding mereka melakukan praktik rasisme sistematis dalam pemilihan model untuk presentasi koleksi terbaru mereka.
Langkah berani Bella Hadid ini memicu diskusi panas di media sosial dan di antara para pengamat mode. Inti dari permasalahannya adalah dominasi model kulit putih yang sangat kontras di panggung catwalk, sementara representasi model dari latar belakang etnis lain tampak hampir tidak ada.
Artikel ini akan mengupas tuntas kronologi kejadian, dampak bagi industri fashion, sejarah panjang kontroversi Dolce & Gabbana, serta mengapa pernyataan Bella Hadid dianggap sebagai titik balik penting dalam perjuangan kesetaraan di dunia modeling.
Kronologi Ketegangan di Milan Fashion Week 2026
Peristiwa ini bermula saat Dolce & Gabbana mempresentasikan koleksi Musim Gugur/Dingin 2026 (Fall/Winter 2026) di Milan. Dalam pertunjukan yang bertajuk
“The Portrait of Man” tersebut, audiens dan kritikus mode segera menyadari adanya kejanggalan yang mencolok. Dari puluhan model yang berjalan di atas runway, hampir seluruhnya memiliki karakteristik fisik yang seragam: pria kulit putih dengan tampilan yang sangat konvensional.
Bella Hadid, yang dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial, tidak tinggal diam. Melalui platform media sosial pribadinya, ia mengunggah serangkaian pernyataan yang menyudutkan Domenico Dolce dan Stefano Gabbana.
Bella menyebut casting tersebut sebagai bentuk kemunduran besar bagi industri mode yang selama beberapa tahun terakhir tengah berjuang keras untuk menjadi lebih inklusif.
Ia tidak hanya mengkritik visual di atas panggung, tetapi juga mempertanyakan integritas manajemen di balik layar. Pernyataan Bella yang paling tajam menyebutkan bahwa
Dolce & Gabbana seolah-olah sengaja “menghapus” keberagaman demi estetika yang dianggap rasis dan eksklusif. Kritik ini segera menyebar luas, menciptakan tagar viral yang menyerukan boikot terhadap koleksi terbaru brand tersebut.
Analisis Visual: Fenomena “50 Shades of White”
Istilah “50 Shades of White” muncul di kalangan netizen untuk menggambarkan deretan model Dolce & Gabbana pada musim tersebut. Dalam dunia fashion modern, keberagaman bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah keharusan etis. Namun, apa yang ditampilkan di Milan Fashion Week 2026 oleh D&G justru menunjukkan anomali.
Para kritikus mode mencatat bahwa dari sekitar 50 hingga 60 tampilan yang dipresentasikan, persentase model kulit hitam, Asia, dan Latin sangat minim, bahkan ada yang menyebutkan hampir mencapai nol persen pada segmen tertentu.
Hal ini dianggap sebagai penghinaan terhadap audiens global D&G yang berasal dari berbagai belahan dunia. Bella Hadid menekankan bahwa tindakan ini bukan sekadar kekhilafan teknis dalam proses casting, melainkan cerminan dari ideologi brand yang enggan beradaptasi dengan nilai-nilai progresif.
Mengapa Suara Bella Hadid Sangat Berpengaruh?
Bella Hadid bukan sekadar model papan atas; ia adalah ikon budaya yang memiliki pengaruh besar terhadap generasi Z dan milenial. Keberaniannya untuk berbicara melawan salah satu raksasa industri fashion membawa risiko besar bagi kariernya, mengingat pengaruh politik dan ekonomi yang dimiliki oleh Dolce & Gabbana.
Namun, Bella justru menggunakan posisinya untuk menjadi tameng bagi model-model muda dari latar belakang minoritas yang seringkali merasa tidak memiliki suara.
Pernyataan Bella Hadid dianggap valid karena ia sendiri telah bekerja di level tertinggi industri ini selama lebih dari satu dekade. Ia memahami bagaimana proses seleksi model berlangsung di balik pintu tertutup. Dengan menyebut D&G “rasis”,
Bella secara langsung menantang struktur kekuasaan di Milan yang selama ini dikenal cukup konservatif dibandingkan dengan London atau New York Fashion Week.
Sejarah Kelam Dolce & Gabbana dengan Isu Rasial
Kontroversi di tahun 2026 ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi Dolce & Gabbana. Rumah mode ini memiliki sejarah panjang yang penuh dengan perselisihan terkait isu ras dan budaya. Untuk memahami mengapa kemarahan Bella Hadid begitu besar, kita perlu menengok kembali beberapa insiden masa lalu:
Iklan “Chopsticks” di Tiongkok (2018): Salah satu skandal terbesar mereka terjadi ketika D&G merilis video promosi yang menampilkan model Tiongkok kesulitan memakan makanan Italia dengan sumpit. Iklan ini dianggap merendahkan budaya Tiongkok dan berujung pada pembatalan peragaan busana besar di Shanghai serta boikot massal di pasar Asia.
Komentar Kontroversial Stefano Gabbana: Salah satu pendirinya, Stefano Gabbana, seringkali terlibat dalam perselisihan di media sosial, termasuk melontarkan kata-kata kasar yang dianggap menghina kelompok tertentu.
Masalah Inklusivitas yang Berulang: Meskipun sering mengklaim merayakan “keluarga” dan “tradisi”, D&G sering dikritik karena definisi “keluarga” mereka yang dianggap terlalu sempit dan hanya berpusat pada pandangan Eurosentris yang kaku.
Dengan latar belakang tersebut, kritik Bella Hadid di tahun 2026 seolah menjadi pemantik api pada tumpukan jerami kering. Masyarakat fashion merasa bahwa brand ini tidak benar-benar belajar dari kesalahan masa lalu.
Dampak Terhadap Reputasi Brand dan Ekonomi
Dunia fashion di tahun 2026 sangat bergantung pada citra publik. Konsumen modern tidak hanya membeli produk karena desainnya, tetapi juga karena nilai-nilai yang diusung oleh perusahaan tersebut. Tudingan rasisme dari figur sekelas Bella Hadid memiliki dampak ekonomi yang nyata.
Segera setelah berita ini pecah, beberapa pengecer besar (retailer) dikabarkan mulai meninjau ulang pesanan mereka untuk koleksi Fall/Winter 2026.
Selain itu, sentimen negatif di media sosial menyebabkan penurunan nilai merek secara digital. Investor mulai khawatir bahwa keteguhan D&G pada standar kecantikan yang eksklusif akan menjauhkan mereka dari pasar global yang semakin beragam, terutama di wilayah Asia Pasifik dan Amerika Utara.
Peran Casting Director dan Tanggung Jawab Industri
Kontroversi ini juga menyoroti peran casting director dalam sebuah rumah mode. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana sebuah tim profesional bisa meloloskan deretan model yang begitu seragam di tengah pengawasan publik yang ketat terhadap isu inklusivitas.
Beberapa pihak membela D&G dengan argumen “kebebasan artistik”, menyatakan bahwa seorang desainer berhak memilih siapa pun untuk merepresentasikan visi mereka. Namun, Bella Hadid dan banyak aktivis mode lainnya berpendapat bahwa kebebasan artistik tidak boleh digunakan sebagai tameng untuk diskriminasi.
Di panggung sebesar Milan Fashion Week, apa yang ditampilkan adalah pesan politik dan sosial. Jika sebuah brand hanya menampilkan satu ras, pesan yang dikirimkan adalah bahwa ras lain tidak memiliki tempat dalam definisi “kemewahan” mereka.
Transformasi Industri Mode: Menuju Masa Depan yang Lebih Adil
Kasus Bella Hadid vs Dolce & Gabbana ini diharapkan menjadi katalisator bagi perubahan yang lebih dalam.
Industri mode tidak bisa lagi hanya melakukan “tokenisme”—yaitu menempatkan satu atau dua model kulit hitam hanya untuk menggugurkan kewajiban inklusivitas. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik mulai dari tingkat dewan direksi hingga ke atas panggung.
Langkah-langkah yang diharapkan muncul setelah insiden ini antara lain:
Audit Keberagaman: Brand besar diharapkan melakukan audit internal terhadap proses perekrutan dan representasi mereka.
Transparansi Casting: Memberikan ruang bagi model dari berbagai latar belakang untuk berkompetisi secara adil tanpa adanya kuota tersembunyi yang membatasi mereka.
Edukasi Sensitivitas Budaya: Memastikan bahwa tim kreatif memahami dampak global dari pilihan estetika mereka.
Respon dari Komunitas Model dan Rekan Sejawat
Dukungan untuk Bella Hadid mengalir deras dari rekan-rekan sesama model seperti Naomi Campbell, Adut Akech, dan Paloma Elsesser. Mereka memuji keberanian
Bella karena bersedia mengambil posisi yang sulit. Banyak model merasa bahwa selama ini mereka harus tetap diam demi menjaga hubungan baik dengan rumah mode besar, namun tindakan Bella telah membuka pintu bagi diskusi yang lebih jujur.
Di sisi lain, belum ada pernyataan resmi yang cukup memadai dari pihak Dolce & Gabbana untuk meredakan situasi.
Respons awal yang terkesan defensif justru semakin memperkeruh suasana. Hal ini menunjukkan adanya jurang komunikasi yang besar antara rumah mode tradisional dengan dinamika sosial modern.
Visi Baru Milan sebagai Ibu Kota Mode
Milan telah lama dianggap sebagai jantung dari kerajinan tangan dan kemewahan tradisional
Namun, agar tetap relevan di masa depan, Milan harus mampu menyelaraskan warisan budayanya dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Skandal di Milan Fashion Week 2026 ini menjadi pengingat bagi seluruh brand Italia bahwa dunia sedang memperhatikan mereka.
Koleksi-koleksi hebat tidak akan ada artinya jika dipresentasikan melalui narasi yang menyakitkan sebagian kelompok masyarakat. Keberagaman justru memperkaya kreativitas, memberikan perspektif baru pada siluet, warna, dan cara pakaian dikenakan.
Bella Hadid melalui kritiknya sebenarnya sedang mengajak D&G untuk melihat keindahan yang lebih luas daripada sekadar standar lama yang usang.
Kesimpulan: Akhir dari Era Eksklusivitas?
Tahun 2026 mungkin akan dicatat sebagai tahun di mana “benteng” eksklusivitas di Milan mulai runtuh. Kritik tajam Bella Hadid terhadap Dolce & Gabbana bukan sekadar drama selebriti, melainkan perjuangan untuk hak-hak dasar manusia dalam mendapatkan representasi yang layak.
Fashion adalah cermin dari masyarakat. Jika masyarakat kita beragam, maka panggung mode pun harus mencerminkan keberagaman tersebut.
Dolce & Gabbana kini berada di persimpangan jalan: apakah mereka akan tetap bertahan dengan
pola lama yang diskriminatif, atau mereka akan benar-benar berubah dan merangkul seluruh warna kulit sebagai bagian dari “Portrait of Man” yang sesungguhnya.
Keputusan ada di tangan mereka, namun satu hal yang pasti: publik tidak akan lagi tinggal diam, dan
suara-suara seperti Bella Hadid akan terus bergema hingga keadilan benar-benar terwujud di atas panggung dunia. Kita semua menantikan bagaimana industri ini akan berevolusi setelah guncangan hebat di Milan tahun ini.